Aku pernah merasa, bahwa aku adalah hanyalah seorang diri.
Seorang anak yang terlahir begitu saja tanpa persiapan
Jauh dari sebuah kehangatan apalagi pengharapan
Dan karenanya ia harus merelakan rasa untuk memiliki
Sesuatu yang sangat fasih diharapkan, namun langka di kecap
Aku menjalani masa kecil dengan tanpa perasaan.
Seorang autis kecil dalam dunia di pojok pintu kelas
Tak sedikitpun kusentuh tiap jenis permainan di depanku
Ataupun bekal makan siang yang akhirnya disantap teman-temanku
Aku tidak pernah berbicara meski dihardik
Namun di lingkunganku aku tumbuh menjadi keras.
Semua ditumpahkan untuk satu kata…”itu milikku”
Dan sejak itu, setiap ego yang menyinggungku adalah musuh bagitu
Termasuk kedua orang tuaku…
Tumbuh menjadi manusia penyendiri, aku menemukan gairah dalam hayalan
Setiap cerita yang kubaca atau kudengar adalah mimpi yang harus terwujud
Sekali lagi itu hanya mimpi karena aku hidup dalam penjara waktu
Dan kedewasaan itu semu, hanya hayal yang nampak nyata
Ketika akhirnya aku jatuh cinta untuj pertama kali
Entah kapan ia pertama kali timbul, tapi itu sangat menyiksa
Keheningan tiba-tiba menjadi penderitaan
Hayalan tiba-tiba menjadi tangisan
Aku tidak berani untuk menyatakan perasaan itu
Sehingga tulisan adalah wujud yang paling sempurna
Mungkin bukan cinta, jika ia tidak mampu bertindak.
Aku tidak pernah dapat lepas dari bayangnya kemanapun aku pergi
Tapi satu hal yang pasti, rasa akan berlalu dan cinta harus dikatakan
Dan untuk pertamakalinya aku mengatakan bahwa aku mencintainya
Sejak itu, seluruh perasaanku mengering
Aku adalah pemberontak yang baru terlahir
Relijius, sebuah penjara baru dalam hidupku
Aku harus menutup mata setiap kali aku berpaling
Tapi sedikitpun aku tak sanggup… sebuah perjanjian telah diikat.
Meski aku berontak namun selalu, perasaanku menjadi pemenang
Hingga akhirnya aku luruh dibawah telapak kaki ayahandaku
Ketika menyadari waktu tuk berpaling makin renta,
semua terlambat sudah, pemberontakkan ku tidak ada berarti
aku jatuh dalam jurang yang paling terpuruk, pelarian yang paling hina
namun disini kumengenal cinta yang sesungguhnya
terlebih lagi, aku belajar untuk mencintai sepenuh hati
Pada detik dimana aku termenung, selalu Ibunda yang terlintas
Namun aku lengah untuk kedua kalinya
Kali ini amarah akan kebebasan membelenggu perasaanku
Ketika tiba-tiba aku dapat melihat bagaimana buku ini dituliskan
Dan tahulah aku, bagaimana cinta itu berwujud
Dia tidak lembut apalagi romantis.
Tidak menyentuh apalagi menggairahkan.
Dia ada seakan-akan sebagai beban, yang sedikitpun tak dapat dilepaskan
Membuat diriku mengeluh sepanjang waktu, tanpa syukur
Hingga akhirnya masa bersyukur itu lewat, dan semua telah terlambat.
Di detik-detik nafas terakhir ibunda ku berkata….”TERIMA KASIH”
Dan aku memulai hidupku yang baru
Tanpa pernah berfikir tentang takut ataupun malu
Tanpa pernah merasa berdosa apalagi bersalah
Tanpa nafsu maupun gairah….
Setiap rasa hanya dapat dikecap terpisah, tak boleh dapat berbaur.
Entah mengapa, pada saat itulah aku merasa menjadi manusia yang normal sepenuhnya
Aku yang sesungguhnya… tanpa masa lalu…. Tanpa masa depan.
APAKAH AKU BERUBAH?